“Kanan mundur, kiri maju!” Teriakan seperti itu biasanya datang hanya beberapa detik sebelum perahu masuk ke lidah jeram. Peserta yang paham artinya akan langsung bergerak bersama, sementara peserta yang ragu sering berhenti mendayung untuk menoleh ke belakang. Pada perahu karet berisi enam orang, perbedaan itu terasa nyata: haluan berbelok ke arah yang tidak direncanakan pemandu, dayung saling beradu, dan perhatian semua orang pecah tepat ketika arus menuntut gerakan kompak. Itulah sebabnya kemampuan pertama yang dibutuhkan pemula di sungai bukan otot lengan, melainkan kemampuan mendengar, mengerti, lalu meniru aba-aba dengan cepat.
Uraian di bawah membahas apa yang biasanya diajarkan pemandu tentang posisi duduk, cara memegang dayung, aba-aba lisan, serta isyarat tangan dan peluit. Istilahnya sengaja disajikan sebagai contoh yang lazim, bukan kamus resmi. American Whitewater, organisasi keselamatan arung jeram di Amerika Serikat, menegaskan dalam Safety Code edisi 2024 bahwa isyarat berbeda antarkomunitas dan antarkelompok, sehingga harus dibahas bersama sebelum turun ke air. Jadi, bila pemandu Anda memakai kata lain, ikuti kata pemandu Anda. Materi ini membantu Anda datang ke sesi pengarahan dengan kepala yang lebih siap, bukan menggantikan latihan di lokasi.
GTE FAQ IRF memasukkan demonstrasi atau pengarahan keselamatan sebelum berangkat sebagai salah satu kemampuan yang dinilai pada pemandu. Bagi peserta, hal itu menjadi alasan untuk meminta peragaan aba-aba yang akan dipakai, kemudian mencoba sesuai arahan kru. Mengetahui istilah dari rumah tidak membuktikan bahwa Anda sudah memahami cara operator menyampaikannya di lokasi.
Mengapa satu kata pemandu bisa lebih penting daripada kekuatan lengan
Perahu arung jeram (rafting) untuk wisata dikemudikan oleh pemandu yang biasanya duduk di bagian belakang. Dari posisi itu ia membaca arus, memilih jalur, dan mengatur arah perahu dengan dayungnya sendiri. Namun dayung pemandu saja tidak cukup untuk memindahkan perahu berisi beberapa orang dewasa di arus yang kuat. Tenaga utama datang dari peserta. Aba-aba adalah cara pemandu menyalurkan keputusan jalurnya ke tenaga di depannya. Kalau aba-aba dijalankan setengah hati, keputusan yang benar pun bisa gagal dieksekusi.
Standar kegiatan usaha arung jeram dalam lampiran Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2025 (KBLI 93241) mensyaratkan pemanduan oleh pemandu arung jeram yang bersertifikat atau berlisensi dari lembaga berwenang, yang memiliki pengetahuan dan rekam jejak tentang lokasi serta kemampuan menangani wisatawan. Standar yang sama meminta tersedianya ruang atau area untuk pengarahan (briefing). Dua butir itu saling terkait. Pemandu yang menguasai sungai baru bisa memanfaatkan pengetahuannya bila peserta di perahunya memahami bahasa yang ia pakai, dan tempat untuk mengajarkan bahasa itu adalah sesi pengarahan sebelum berangkat.
International Rafting Federation (IRF), federasi internasional yang menerbitkan standar akreditasi operator, merumuskan hal serupa dari sisi operator. Dalam Rafting Operator Accreditation Standards, butir tentang pengarahan keselamatan menyebut bahwa peserta harus dipersiapkan secara memadai untuk perannya dalam pencegahan dan respons insiden. Kata kuncinya adalah “peran”. Peserta tidak diminta menjadi penyelamat, tetapi diminta menjalankan bagian kecil yang penting: mendayung ketika diminta, berhenti ketika diminta, dan berpegangan atau merunduk ketika diminta.
Ada satu hal lagi yang sering terlupa. Di jeram yang ramai, suara air bisa menenggelamkan kalimat panjang. Karena itu aba-aba di perahu dibuat pendek, terdiri atas satu atau dua kata, dan diulang. Pemula yang terbiasa dengan instruksi panjang kadang menunggu penjelasan tambahan yang tidak akan datang. Begitu aba-aba terdengar, jalankan dulu, lalu bertanya ketika perahu sudah berada di air tenang.
Tempat duduk, posisi kaki, dan cara tetap di perahu
Pada sebagian besar perahu wisata, peserta duduk di tepi tabung samping perahu, bukan di lantai. Posisi ini membuat dayung bisa mencapai air dengan baik. Tubuh bagian bawah menempel pada tabung, sedangkan kaki diselipkan pada pengait kaki di lantai perahu atau di bawah bangku melintang, sesuai cara yang ditunjukkan pemandu. Pengait kaki inilah yang membuat Anda tetap di perahu ketika perahu menghantam ombak, bukan pegangan tangan pada tali.
American Whitewater mencatat bahwa pengait kaki pada perahu karet seharusnya dirancang agar kaki peserta tidak bisa masuk menembusnya. Alasannya sederhana: kaki yang terjepit menyulitkan peserta keluar dari perahu ketika perahu terbalik. Dari sisi peserta, pelajarannya adalah menyelipkan ujung kaki secukupnya seperti yang dicontohkan pemandu, tidak memaksakan seluruh telapak masuk sampai sulit ditarik. Bila pengait terasa terlalu sempit atau terlalu longgar untuk ukuran sepatu Anda, sampaikan saat pengarahan, bukan setelah perahu bergerak.
Posisi duduk juga ditentukan oleh pembagian berat. Pemandu biasanya menata peserta agar berat di kiri dan kanan seimbang, dan menempatkan dua peserta yang dianggap paling sigap di bagian depan karena pasangan inilah yang menentukan irama dayung. Peserta di belakang mengikuti irama orang di depannya. Jangan pindah tempat duduk karena ingin dekat dengan teman tanpa izin pemandu. Perpindahan kecil bisa mengubah keseimbangan yang sudah diatur.
Selain kaki, posisi badan ikut menentukan. Duduk terlalu jauh ke luar tabung membuat Anda mudah terlempar ketika perahu terangkat ombak, sedangkan duduk terlalu ke dalam membuat daun dayung sulit mencapai air. Pemandu biasanya mencari titik tengah: pinggul di atas tabung, badan tegak atau sedikit condong ke depan, dan bahu menghadap haluan. Bila setelah beberapa kayuhan Anda merasa harus terus menahan badan dengan tangan agar tidak tergelincir, berarti posisi duduk atau pengait kaki belum pas. Minta pemandu memeriksanya selagi perahu masih di air tenang.
Beberapa pemula refleks memegang tali di sisi perahu dengan satu tangan sambil mendayung dengan tangan lain. Kebiasaan ini justru membuat dayung tidak terkendali dan ujung pegangannya bergoyang liar. Pegangan pada tali biasanya hanya dipakai ketika pemandu memberi aba-aba berpegangan, dan dalam situasi itu dayung tetap harus dijaga. Cara menjaganya dibahas pada bagian berikut.
Tentang perlengkapan yang Anda pakai selama duduk di perahu, yaitu helm, pelampung, dan dayung, pembahasan lebih rinci ada di panduan cara memeriksa perahu, helm, dan pelampung bersama kru. Di sini cukup diingat bahwa pelampung yang longgar akan naik ke wajah ketika Anda tercebur, sehingga pemeriksaan kekencangannya dilakukan sebelum Anda duduk, bukan sesudahnya.
Memegang dayung: satu tangan di pegangan T, satu di batang
Dayung perahu karet umumnya memiliki pegangan berbentuk huruf T di ujung atas. Cara memegang yang lazim diajarkan adalah telapak tangan bagian dalam menutup pegangan T tersebut, sementara tangan yang lain menggenggam batang dayung sedikit di atas daun dayung. Tangan yang dekat ke air berada di sisi luar perahu, sehingga orang yang duduk di sisi kanan memegang batang dengan tangan kanan dan pegangan T dengan tangan kiri, begitu pula sebaliknya. Pemandu di lokasi akan menyesuaikan detailnya dengan perahu yang dipakai.
Mengapa pegangan T harus ditutup telapak tangan? Ujung keras itu berada setinggi wajah orang di dekat Anda. Bila dilepas atau dipegang sembarangan, pegangan T mudah terayun dan mengenai kepala atau mulut peserta lain saat perahu terhentak. Kebiasaan menutup pegangan T adalah cara paling sederhana untuk mengurangi risiko itu; pola cedera lain yang sering dilaporkan dibahas di panduan cedera yang sering terjadi saat rafting. Ketika pemandu meminta berpegangan pada tali, tangan yang memegang pegangan T biasanya tetap di tempatnya, sedangkan tangan yang tadinya di batang yang berpindah ke tali, sehingga dayung tetap terkendali.
Gerakan mendayung yang efektif tidak bergantung pada tarikan lengan. Daun dayung dimasukkan cukup dalam ke air di depan, lalu badan sedikit diputar dan dicondongkan sehingga tarikan memakai otot punggung dan perut, bukan hanya bahu. Daun dayung keluar dari air di dekat pinggul, kemudian kembali ke depan. Pada aba-aba mundur, urutannya dibalik. Pemandu yang baik akan meminta latihan beberapa kayuhan di air tenang agar semua orang merasakan bedanya.
Dayung yang terlepas ke sungai bukan alasan untuk meraihnya sendiri sambil mencondongkan badan jauh keluar perahu. Beri tahu pemandu, biarkan kru yang memutuskan apakah dayung diambil sekarang atau nanti. Hal yang sama berlaku untuk topi, kacamata, atau barang lain yang terjatuh. Keselamatan peserta lebih penting daripada barang yang hanyut.

Kamus aba-aba yang paling sering terdengar di perahu
Daftar berikut merangkum aba-aba yang lazim dipakai di perahu wisata. Kata persisnya bisa berbeda antaroperator, ada yang memakai bahasa Indonesia, ada yang memakai istilah bahasa Inggris, dan ada yang mencampurnya. Fungsi di balik setiap kata itulah yang perlu dipahami. Tanyakan ke pemandu Anda kata mana yang ia pakai untuk setiap fungsi di bawah.
| Contoh aba-aba | Maksud | Yang biasanya dilakukan peserta |
|---|---|---|
| Maju / dayung maju (forward) | Perahu perlu bergerak ke depan | Semua mendayung maju dengan irama orang di depan |
| Mundur (back paddle) | Perahu perlu melambat atau mundur | Semua mendayung ke arah sebaliknya |
| Kiri maju, kanan mundur (dan kebalikannya) | Perahu perlu berputar | Sisi yang disebut menjalankan gerakan masing-masing secara bersamaan |
| Stop / berhenti | Tidak perlu tenaga tambahan | Berhenti mendayung, dayung diangkat dan dijaga |
| Pegangan (hold on) | Akan ada hentakan | Satu tangan tetap di pegangan T, tangan lain berpegang pada tali, badan direndahkan |
| Masuk / merunduk (get down) | Hentakan besar atau rintangan rendah | Turun ke lantai perahu sesuai cara yang dicontohkan, dayung tetap dipegang |
| Pindah kiri / pindah kanan | Berat perlu dipindah ke satu sisi | Bergerak cepat ke sisi yang disebut, sesuai latihan saat pengarahan |
Aba-aba maju dan mundur terdengar paling sederhana, tetapi justru di sinilah kekacauan sering dimulai. Peserta yang terlalu bersemangat terus mendayung setelah pemandu meminta berhenti, sehingga perahu bergerak lebih cepat dari rencana. Perahu yang terlalu cepat kehilangan waktu yang dibutuhkan pemandu untuk mengarahkan haluan. Biasakan menghentikan dayung begitu kata berhenti terdengar, meskipun Anda merasa perahu masih bisa dipercepat.
Aba-aba berputar, misalnya kiri maju dan kanan mundur, menuntut konsentrasi karena setiap sisi melakukan gerakan berlawanan. Kesalahan yang umum adalah semua peserta mendayung maju karena hanya mendengar kata maju. Jika Anda tidak yakin sisi Anda harus maju atau mundur, lihat orang di depan Anda pada sisi yang sama. Untuk memudahkan, sebagian pemandu menyebut sisi berdasarkan arah aliran sungai, bukan arah wajah peserta. American Whitewater menyarankan sungai selalu digambarkan dari sudut pandang menghadap hilir. Karena peserta di perahu memang menghadap hilir saat mendayung maju, kiri dan kanan biasanya sama dengan kiri dan kanan Anda. Tetap konfirmasikan ketika pengarahan.
Aba-aba berpegangan dan merunduk adalah dua yang paling menentukan keselamatan. Saat aba-aba ini terdengar, perahu biasanya akan menghantam ombak besar, melewati turunan, atau menyentuh batu. Merendahkan badan menurunkan titik berat sehingga Anda tidak mudah terlempar. Yang perlu diingat, gerakan merunduk tetap dilakukan sambil menjaga dayung dan pegangan T. Pemandu akan menunjukkan posisi persisnya; latihlah sekali atau dua kali di tepi sungai sampai gerakannya terasa otomatis.
Aba-aba pindah sisi, yang di beberapa tempat disebut dengan istilah bahasa Inggris high side, dipakai ketika perahu menempel pada batu dan arus mulai mendorong satu sisinya ke bawah. Pemandu meminta peserta berpindah ke sisi yang lebih tinggi agar perahu tidak terbalik. Gerakan ini harus cepat dan hanya dilakukan atas perintah, karena perpindahan berat di saat yang salah justru bisa membuat perahu miring. Karena itu, aba-aba ini sebaiknya dilatih di air tenang bersama aba-aba lain.
Isyarat tangan, dayung, dan peluit ketika suara kalah oleh jeram
Di jeram yang panjang, aba-aba lisan sering hanya terdengar oleh perahu yang paling dekat. Untuk komunikasi antarperahu atau antara perahu dan kayak pengawal, rombongan memakai isyarat tangan, dayung, dan peluit. American Whitewater dalam Safety Code 2024 memuat beberapa isyarat yang umum dipakai di Amerika Serikat. Isyarat itu dirangkum di sini sebagai rujukan internasional agar Anda mengenali bentuknya, dengan catatan bahwa pemandu di lokasi bisa memakai versi lain.
| Isyarat | Bentuk umum | Arti |
|---|---|---|
| Berhenti | Lengan atau dayung dibentangkan mendatar, digerakkan naik turun | Ada bahaya di depan; tunggu isyarat aman |
| Aman, silakan maju | Tangan atau dayung diangkat tegak lurus; bila tidak terlihat, satu tiupan peluit | Jalur dapat dilalui |
| Baik-baik saja | Siku ke samping, telapak menepuk bagian atas kepala berulang | Dipakai sebagai pertanyaan dan jawaban; jangan dibuat bila tidak baik |
| Bantuan/darurat | Tiga tiupan panjang peluit sambil melambaikan lengan bersilang di atas kepala | Perlu bantuan segera |
| Ada orang di air | Gerakan lengan seperti berenang gaya bebas | Ada peserta yang keluar dari perahu |
| Arahkan ke sana | Menunjuk ke jalur yang aman | Bergerak ke arah yang ditunjuk; tidak pernah menunjuk rintangan |
Dua prinsip dari daftar itu penting bagi peserta. Pertama, isyarat arah selalu menunjuk jalur yang aman, bukan bahayanya. American Whitewater menyebutnya menunjuk positif. Jadi, bila pemandu atau kayak pengawal menunjuk ke kiri, artinya perahu harus ke kiri, bukan ada sesuatu yang perlu dilihat di kiri. Kedua, satu tiupan peluit dipakai untuk menarik perhatian, sedangkan tiga tiupan disimpan untuk keadaan darurat. Karena peluit biasanya diikat pada pelampung, jangan meniupnya untuk bercanda. Tiupan iseng bisa membuat kru mengira ada masalah.
Isyarat “baik-baik saja” layak dihafal karena dipakai dua arah. Pemandu mungkin menanyakan keadaan Anda dengan isyarat itu setelah melewati jeram. Bila Anda baik-baik saja, balas dengan isyarat yang sama. Bila tidak, jangan membalas dengan isyarat itu. Menurut American Whitewater, isyarat ini memang hanya dibuat bila seseorang tidak cedera parah dan tidak berada dalam bahaya langsung. Tidak membalas, atau melambaikan tangan meminta bantuan, adalah informasi yang dibutuhkan kru.
Isyarat juga berguna di dalam satu perahu ketika suara pemandu tertutup gemuruh air. Sebagian pemandu mengangkat dayungnya mendatar sebagai tanda berhenti, atau menunjuk satu sisi untuk meminta peserta berpindah. Karena itu, sesekali lihat ke arah pemandu, terutama menjelang jeram, alih-alih hanya mengandalkan pendengaran.
Dalam rombongan besar, isyarat diteruskan dari perahu terdepan ke perahu di belakangnya. American Whitewater menyarankan isyarat diulang ke anggota rombongan berikutnya dan dibalas sebagai tanda paham. Untuk peserta, artinya sederhana: bila pemandu di perahu Anda meniru isyarat dari perahu lain, perhatikan dan ikuti instruksi yang menyusul. Peran memberi isyarat antarperahu dijalankan kru, sebagaimana dijelaskan dalam peta peran pemandu dan tim keselamatan.
Latihan singkat di air tenang sebelum jeram pertama
Standar kegiatan usaha arung jeram dalam Permenpar 6/2025 meminta lokasi memulai pengarungan berada di arus tenang. Air tenang di awal perjalanan adalah kesempatan untuk mengubah teori dari sesi pengarahan menjadi gerakan. Banyak pemandu memanfaatkannya untuk latihan singkat: mendayung maju bersama, mundur, berputar ke kiri dan ke kanan, berhenti mendadak, lalu berpegangan dan merunduk. Bila latihan ini tidak ada, Anda boleh memintanya dengan sopan sebelum perahu masuk ke jeram pertama.
Gunakan latihan itu untuk memeriksa tiga hal. Pertama, apakah Anda bisa mendengar suara pemandu dari tempat duduk Anda. Helm, angin, dan suara air bisa mengaburkan kata-kata. Bila suara pemandu sulit terdengar, katakan saat itu juga agar ia bisa menyesuaikan volume atau posisi. Kedua, apakah irama dayung di perahu sudah seragam. Perahu yang dayungnya tidak serempak akan bergoyang meskipun semua orang berusaha keras. Ketiga, apakah setiap peserta tahu cara masuk ke lantai perahu dan kembali ke posisi duduk tanpa kehilangan dayung.
Contoh rekaan: sebuah rombongan enam orang mendapat pemandu yang langsung mengajak mendayung setelah pengarahan singkat di darat. Di air tenang, dua peserta di belakang ternyata salah sisi saat aba-aba berputar, dan satu peserta tidak mendengar kata berhenti karena helmnya menutup telinga. Pemandu mengulang latihan dua kali, memindahkan satu peserta ke depan agar lebih dekat ke suaranya, dan baru melanjutkan setelah semua gerakan serempak. Lima menit tambahan itu membuat jeram pertama terasa lebih tertib. Skenario ini rekaan untuk menggambarkan fungsi latihan, bukan catatan perjalanan nyata.
Latihan juga menjadi waktu yang tepat untuk menyepakati cara bertanya. Di jeram, pertanyaan panjang tidak mungkin dijawab. Peserta dan pemandu bisa menyepakati satu kata, misalnya “ulang”, yang berarti aba-aba tidak terdengar jelas. Pemandu lalu mengulang dengan lebih keras atau menambahkan isyarat tangan. Kesepakatan kecil seperti ini mencegah peserta menebak-nebak.
Jika setelah latihan Anda masih merasa tidak bisa mengikuti aba-aba, misalnya karena kelelahan, cemas, atau ada nyeri bahu, katakan sebelum melewati titik yang sulit dijangkau dari darat. Hak untuk mundur sebelum berangkat dibahas lebih jauh di panduan urutan briefing keselamatan dan hak bertanya. Menyampaikan keraguan lebih awal memberi pemandu waktu untuk mengatur ulang posisi atau mencari jalan keluar yang aman.
Kesalahan pemula yang paling sering membuat perahu kacau
Kesalahan pertama adalah melihat jeram, bukan mendengar pemandu. Pemandangan ombak putih memang menarik perhatian, tetapi peserta yang terpaku melihat ke depan sering terlambat menangkap aba-aba. Biarkan pemandu yang mengamati jalur. Tugas Anda adalah menjaga telinga tetap terbuka untuk kata berikutnya.
Kesalahan kedua adalah mendayung sendiri tanpa diminta. Ada peserta yang merasa perahu terlalu lambat lalu mendayung lebih kuat atau ikut mengarahkan. Niatnya baik, tetapi tenaga tambahan di satu sisi membuat perahu berbelok dan mengacaukan rencana pemandu. Mendayung hanya ketika diminta, dengan kekuatan dan irama yang sama dengan rekan satu sisi.
Kesalahan ketiga adalah melepas pegangan T. Ketika kelelahan, tangan cenderung mengendur dan pegangan T dibiarkan bebas. Di saat itulah perahu sering terhentak. Bila lengan pegal, katakan kepada pemandu. Ia bisa memberi waktu istirahat di air tenang, tetapi Anda tetap menjaga pegangan sampai saat itu.
Kesalahan keempat adalah berdiri atau mencondongkan badan keluar perahu untuk mengambil foto, meraih barang, atau menolong rekan yang jatuh tanpa diminta. Menolong orang di air adalah tugas kru yang terlatih, dan cara peserta membantu, misalnya meraih tali pelampung rekan atas perintah pemandu, hanya dilakukan sesuai arahan saat itu. Untuk memahami mengapa berdiri di arus dihindari, baca juga penjelasan tentang bahaya sungai seperti pusaran, hole, dan strainer. American Whitewater menulis bahwa kaki bisa terjepit di antara batu atau batang kayu di dasar sungai, dan arus dapat mendorong orang ke bawah, sehingga berdiri di air yang bergerak cepat tidak dianjurkan.
Kesalahan kelima adalah diam ketika ada yang tidak beres. Peserta kadang enggan mengaku tidak paham karena malu di depan rombongan. Pemandu justru membutuhkan informasi itu. Kalimat sederhana seperti “belum paham bedanya pegangan dan merunduk” bisa mencegah kebingungan di tengah jeram.
Menjaga tenaga: irama, napas, dan kapan meminta jeda
Mendayung beberapa jam di bawah matahari tropis menguras tenaga lebih cepat daripada yang dibayangkan. Kelelahan berdampak langsung pada aba-aba: reaksi melambat, pegangan dayung mengendur, dan konsentrasi mudah buyar. Karena itu, cara Anda mengatur tenaga sejak awal ikut menentukan seberapa baik Anda merespons perintah di jeram terakhir, bukan hanya di jeram pertama.
Irama yang baik adalah irama yang bisa dipertahankan. Pemandu biasanya tidak meminta tenaga penuh terus-menerus. Di air tenang, kayuhan pelan dan panjang sudah cukup, sedangkan tenaga besar disimpan untuk saat pemandu meminta dayung kuat menjelang jeram. Peserta yang mendayung sekuat tenaga sepanjang perjalanan sering kehabisan napas justru ketika tenaga paling dibutuhkan. Ikuti tempo dua peserta terdepan, dan jangan berlomba dengan perahu lain.
International Rafting Federation dalam standar akreditasi operatornya juga menyebut bahwa operator perlu memastikan peserta memiliki atau diberi makanan dan air yang cukup untuk tuntutan fisik perjalanan. Dari sisi peserta, artinya minum cukup sebelum berangkat, memanfaatkan jeda yang diberikan pemandu untuk minum bila tersedia, dan tidak menahan rasa haus atau pusing sampai akhir. Bila badan mulai lemas, kram, atau kepala terasa berat, sampaikan saat perahu berada di air tenang. Pemandu bisa memberi waktu istirahat, mengubah posisi duduk, atau mengatur ulang pembagian tenaga di perahu.
Meminta jeda bukan tanda lemah. Peserta yang beristirahat sebentar di air tenang lalu kembali sigap jauh lebih membantu daripada peserta yang memaksakan diri hingga tidak bisa lagi mengikuti aba-aba berpegangan atau merunduk.
Kalau aba-aba terdengar asing atau tertukar
Peserta yang pernah ikut arung jeram di tempat lain kadang membawa kebiasaan lama. Di satu operator, kata yang dipakai untuk merunduk mungkin berbeda dengan operator lain, atau satu kata dipakai untuk maksud yang lain. Ketidakcocokan ini wajar dan tidak perlu diperdebatkan. Ikuti istilah pemandu yang memimpin perahu Anda hari itu, karena dialah yang akan memberi aba-aba.
Pada rombongan campuran, misalnya ada peserta yang lebih nyaman dengan bahasa daerah atau bahasa Inggris, minta pemandu menyebut sinonim saat pengarahan. Pemandu bisa menyepakati satu kata utama dan satu isyarat tangan untuk setiap fungsi. Isyarat tangan membantu peserta yang kesulitan mendengar, termasuk peserta dengan gangguan pendengaran yang perlu disampaikan sejak awal agar pemandu menyiapkan cara komunikasi yang sesuai.
Ada pula situasi ketika dua aba-aba datang berturut-turut sangat cepat, misalnya maju lalu langsung berpegangan. Prinsipnya, aba-aba terakhir yang berlaku. Jangan menyelesaikan kayuhan sebelumnya bila kata berikutnya sudah terdengar. Kebiasaan merespons aba-aba terbaru akan membuat perahu jauh lebih mudah dikendalikan.
Bila Anda terlempar dari perahu, aba-aba yang berlaku bukan lagi aba-aba mendayung, melainkan instruksi pemandu dan kru tentang apa yang harus dilakukan di air. Instruksi itu dijelaskan saat pengarahan dan bergantung pada kondisi sungai, sehingga tidak dibahas sebagai prosedur umum di sini. Bagi peserta yang belum percaya diri di air, panduan rafting bagi yang tidak bisa berenang membahas pertanyaan yang perlu diajukan sebelum mendaftar.
Sebelum perahu didorong ke arus, cobalah menjawab lima pertanyaan berikut dalam hati: kata apa yang dipakai pemandu untuk berhenti, apa bedanya berpegangan dan merunduk, sisi mana tempat Anda duduk, tangan mana yang menutup pegangan T, dan isyarat apa yang dipakai untuk menyatakan Anda baik-baik saja. Bila salah satu jawabannya belum pasti, tanyakan sekarang. Pertanyaan di tepi sungai jauh lebih murah daripada kebingungan di tengah jeram.
Pertanyaan tentang istilah dan posisi di perahu
Apakah peserta perlu menghafal istilah sebelum datang ke lokasi?
Tidak harus. Lebih berguna memahami fungsi setiap aba-aba lalu menanyakan kata yang dipakai pemandu pada hari itu, karena istilah antaroperator bisa berbeda.
Kapan waktu yang tepat untuk meminta pindah posisi duduk?
Sampaikan ke pemandu dan biarkan ia menentukan waktunya, biasanya saat perahu menepi atau berada di air tenang. Berpindah di tengah arus bisa mengganggu keseimbangan perahu.
Rujukan isyarat sungai dan standar pemanduan
- American Whitewater — Safety Code edisi 2024 (PDF). Rujukan internasional (Amerika Serikat) untuk isyarat tangan, dayung, dan peluit, prinsip menunjuk jalur aman, desain pengait kaki perahu, serta alasan tidak berdiri di arus deras. Diakses 2026-10-17.
- International Rafting Federation — Rafting Operator Accreditation Standards (PDF). Rujukan internasional tentang kesiapan peserta melalui pengarahan keselamatan, dayung yang layak pakai, serta makanan dan air yang memadai selama perjalanan. Diakses 2026-10-17.
- Lampiran Permenpar 6/2025 — Standar Kegiatan Usaha Arung Jeram (KBLI 93241), JDIH BPK. Kewajiban pemanduan oleh pemandu bersertifikat atau berlisensi, area pengarahan bagi wisatawan, titik mulai di arus tenang, serta dayung, pelampung, helm, dan peluit yang berfungsi baik.; status Berlaku dan pencabutan Permenpar 4/2021 diperiksa melalui metadata resmi peraturan yang sama (bukan dokumen primer terpisah). Diakses 2026-10-17.
- International Rafting Federation — GTE FAQs (terbit 3 Maret 2021). Rujukan internasional: demonstrasi/pengarahan keselamatan sebelum keberangkatan sebagai bagian penilaian pemandu; perbedaan tanggung jawab Guide, Trip Leader, Safety Rafter dan Safety Kayaker. Tidak menyamakan sistem IRF dengan kewajiban sertifikasi setiap operator Indonesia. Diakses 2026-10-22.